Bola.com, Jakarta Kegagalan Timnas Indonesia U-20 di Piala Asia U-2025 masih terus menjadi sorotan. Garuda Muda tak hanya tersingkir menyusul dua kekalahan beruntun dari Iran dan Uzbekistan di Grup A, tapi juga tak mampu memungkasi perjuangan kala bersua Yaman dengan skor imbang 0-0.
Pengamat sepak bola nasional, Binder Singh, ikut angkat suara terkait hasil duel versus Yaman.
"Kalau bagi saya, kegagalan Indonesia meraih kemenangan melawan Yaman di pertandingan merupakan sebuah kejutan besar. Karena saya kira Indonesia minimal akan meraih satu kali kemenangan di fase grup ini melawan salah satu tim lemah di grup inim," kata Binder Singh via kanal YouTube Bola Bung Binder.
"Tapi ternyata, kami bisa melihat ada permainan yang berbeda dari Indonesia di babak pertama dan di babak kedua. Di babak pertama Indonesia memang berani keluar menyerang dan juga bisa beberapa kali menciptakan peluang yang berbahaya," imbuhnya.
"Tetapa di babak kedua, para pemain Indonesia lebih sering bertahan dan juga kewalahan untuk bisa mengantisipasi serangan dari pemain Yaman yang memang bisa menciptakan lebih banyak peluang yang berbahaya di babak kedua," jelas Binder Singh lagi.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Plus dan Minus
Binder Singh memuji semngat juang yang sudah diperlihatkan Doni Try Pamungkas dan kawan-kawan.
"Walaupun sepanjangan pertandingan seperti yang juga saya jelaskan di konten sebelumnya, bahwa fighting spirit dan juga determinasi dari pemain Indonesia luar biasa. Sudah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan mereka jatuh bangun di atas lapangan, mereka beberapa kali melakukan pressing. Mereka juga beberapa kali dilanggar," ujarnya.
"Tapi secara intelegensia, ya jujur ini perlu saya katakan bahwa pemain Indonesia itu kalah jauh daripada pemain Yaman," tukasnya.
"Dan saya kira Yaman ini akan kalah. Karena sebetulnya permainan lawan Uzbekistan dan juga lawan Iran menunjukkan bahwa lini pertahanan mereka itu lemah. Dan berhasil juga dieksploitasi pemain Indonesia kan di babak pertama dengan dua sampai tiga peluang yang berbahaya," katanya.
"Walau pun Jens Raven lagi-lagi seperti musafirlah di lini depan. Dan kemudian diganti ya di babak kedua yang membingungkan saya. Karena sejauh ini Jens Raven-lah yang berhasil mencetak gol," lanjut Binder.
"Mungkin juga ada rencana lainnnya dari Indra Sjafri. Welber Jardim juga ditarik keluar, padahal kalau saya lihat permainan di babak pertama tidak buruk juga. Meski pun dia beberapa kali kalah pressing dari para pemain Yaman."
"Tapi opsi menyerang itu berada di Welber Jardim dan tentu selain Welber ada juga Toni Firmansyah dan juga Doni Try Pamungkas. Dan tentunya Jens Raven sebagai predator."
"Tapi dengan ditariknya Jens dan Welber di babak kedua, tampak para pemain Indonesia lebih fokus dalam bertahan."
Membingungkan
Binder Singh mengaku bingung terkait pola permainan Garuda Muda besutan Indra Sjafri.
"Jujur, saya agak bingung karena saya tidak mengerti pola permainan dari Indonesia sebetulnya apa. Apakah para pemain Indonesia dinstruksikan Indra Sjafri untuk menyerang dan menyerang agar bisa mencetak gol dan minimal meraih satu kali kemenangan di Piala Asia U-20 kali ini," ketusnya.
"Atau, Indra Sjafri meminta para pemain bermain dengan ball possession. Artinya lebih lama menguasai bola. Atau apakah, ini pertanyaan ya dari saya, "apakah Indra Sjafri meminta para pemain untuk bertahan dulu kemudian counter'. Saya tidak melihat tiga pola ini."
"Yang saya lihat, para pemain dari Indonesia itu pada saat mendapatkan bola yang mereka pikirkan bagaimana caranya mereka bisa menyerang dan kemudian membuka pertahanan dari Yaman. Tapi lebih banyak mengandalkan kecepatan," tegasnya.
Intelegensi
Menurut Binder Singh, sangat disayangkan karena pemain Indonesia yang sudah mengandalkan speed dan otot, namun tak mengandalkan intelegensi.
"Padahal di sepak bola, yang kami pahami bahwa yang perlu dipraktikkan di atas lapangan di sebuah pertandingan high level seperti Piala Asia ini, walaupun lawannya kali ini tak sekuat Iran dan Uzbekistan," tukasnya.
"Jadi saat pemain Indonesia mengandalkan speed, mengandalkan otot, tapi tidak mengandalkan intelegensia. Gimana caranya bisa bermain secara konsisten selama 90 menit untuk bisa menciptakan beberapa peluang emas kemudian tentunya mengkonversikan pelaung-peluang emas tersebut agar bisa mencetak gol," pungkas Binder Singh.